liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Wanti-wanti Kemenkes RI soal Lemak di Tengah Viral Kuliner Nasi Minyak

Jakarta

Di tengah viralnya tren memasak Nasi Minyak, Kementerian Kesehatan mengingatkan berbagai asupan yang perlu dibatasi. Lemak dengan ukuran tertentu memang diperlukan, tetapi tidak berlebihan.

Hal itu disampaikan Plt Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA GIZI) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dr Ni Made Diah PLD, MKM, dalam jumpa pers, Jumat (20/1/2023). Menurutnya, ada dosis yang perlu dibatasi agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan.

“Minyak ini untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak kecil, sebenarnya semua orang membutuhkan minyak tapi dengan batasan, jadi ibu hamil tetap membutuhkan minyak sekitar 5 porsi setiap hari,” jelasnya dalam konferensi pers Hari Gizi Nasional 2023, Jumat. (20/1/2023).

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Ibu menyusui 6 kali sehari, anak kecil juga tetap membutuhkan minyak dengan porsi setiap kali makan, dan Kementerian Kesehatan untuk membatasi lemak ini telah mengeluarkan Permenkes 30 Tahun 2013 tentang Batasan Gula, Garam, dan Lemak,” ujarnya.

Ingat, asupan gula harian tidak boleh lebih dari 50 gram, natrium atau garam tidak lebih dari 2.000 mg, dan total lemak tidak lebih dari 67 gram. Jika berlebihan, risikonya termasuk stroke, hipertensi, diabetes, dan serangan jantung.

Sementara itu, Prof Hardinsyah dari PERGIZI PANGAN Indonesia (Perhimpunan Gizi dan Pangan Indonesia) mengingatkan bahwa efek makanan berlemak tidak terlihat dalam jangka pendek. Demikian pula, tidak semua lemak atau minyak dikaitkan dengan risiko negatif.

Misalnya puding nasi. Menurut Prof Hardinsyah, minyak yang digunakan dalam masakan ini cukup aman karena berasal dari minyak kelapa dan proses pengolahannya dikukus, bukan digoreng.

“Yang penting jangan melebih-lebihkan dan pastikan minyak apa yang digunakan, bukan berarti nasi dituang dengan minyak jelantah, atau digoreng dengan minyak seperti nasi goreng,” ujarnya.

LANJUT: Minyak jelantah pada nasi goreng yang viral digunakan berulang kali

Simak video “Pedagang Sebut Soal Viral Masakan ‘Nasi Minyak’ di Itik Surabaya”
[Gambas:Video 20detik]