liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Terdampak 'Resesi Seks', Gaya Hidup Pasutri Korsel Berubah

Jakarta

Gaya hidup pasangan Korea Selatan berubah di tengah resesi seks yang membayangi. Misalnya, Choi Jung-hee, seorang pekerja kantoran yang baru menikah, enggan memiliki anak.

“Hidup saya dan suami saya adalah yang utama,” katanya kepada The Guardian, dikutip Minggu (27/11/2022).

Dia mengaku sering mendengar ungkapan betapa bahagianya dia memiliki anak. Namun, niat Choi Jung-hee untuk tidak memiliki anak atau tidak memiliki keturunan masih lebih tinggi karena ia juga menggambarkan beban membesarkan anak terlalu besar.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Kami ingin hidup bahagia bersama, dan meskipun orang mengatakan memiliki anak dapat membawa kebahagiaan bagi kami, itu juga sering kali membuat kami merasa ingin menyerah,” lanjutnya.

Mengubah Gaya Hidup

Fakta yang menunjukkan perubahan gaya hidup pasangan Korea Selatan juga terlihat dari data rasio keluarga dengan satu anak. Jumlahnya lebih dari 40 persen.

Tidak hanya itu, jumlah pernikahan mencapai titik terendah sepanjang masa, turun menjadi 193.000 tahun lalu.

“Di negara di mana separuh populasinya sekarang percaya bahwa pernikahan bukanlah suatu keharusan. Beberapa, terutama wanita, memprioritaskan kebebasan pribadi dan dengan sengaja menolak pernikahan sama sekali.”

Meski begitu, budaya mengharapkan wanita menjadi ibu rumah tangga masih tinggi di Korea Selatan. Hal ini juga didorong oleh kesenjangan upah gender Korea Selatan yang merupakan yang terparah di Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Negara ini menempati peringkat terbawah dari indeks glass ceiling Economist, yang mengukur di mana perempuan memiliki peluang terbaik dan terburuk untuk perlakuan yang sama di tempat kerja, selama 10 tahun berturut-turut.

Tonton Video “Pemohon Visa Korea Harus Melampirkan Hasil Ujian TB”
[Gambas:Video 20detik]