liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Respons Imun Lemah Jadi Penyebab Pasien Kanker Rentan COVID-19


Jakarta

Pasien kanker memiliki risiko penyakit parah, rawat inap, dan kematian akibat COVID-19 yang lebih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah keadaan respon imun pasien yang tidak lagi berfungsi maksimal sejak sel kanker menyerang tubuhnya.

Kondisi ini dapat disebabkan baik oleh sel kanker maupun sebagai efek samping dari terapi kanker. Untuk itu, tubuh pasien kanker yang termasuk dalam kelompok rentan kurang mampu melawan penyakit dan infeksi, termasuk virus penyebab COVID-19.

Vaksin diperlukan untuk mencegah penyakit menular pada pasien kanker. Dalam kondisi ideal, vaksin harus dapat memicu sistem imun bawaan dan sistem imun adaptif.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Imunisasi yang efektif harus menginduksi stimulasi jangka panjang dari sistem imun humoral dan seluler yang dimediasi oleh sistem adaptif dengan memproduksi sel efektor untuk infeksi saat ini serta sel memori untuk infeksi di masa depan oleh agen patogen.

Berdasarkan penelitian rehabilitasi yang dirilis oleh Linardou et. al, terdapat perbedaan respon tubuh terhadap vaksin yang diberikan pada dua kelompok yaitu kelompok penderita kanker dan kelompok sehat (kontrol).

Konsultan Penyakit Dalam Haemato-Onkologi dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM (Foto: AstraZeneca)

Hasilnya adalah respon imun pasien kanker yang lebih rendah terhadap vaksin. Konsultan Penyakit Dalam Haemato-Onkologi dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM mengatakan, melihat fakta tersebut, ada sekelompok pasien kanker yang berisiko tidak mendapatkan perlindungan optimal seperti orang sehat, bahkan setelah divaksinasi.

“Jadi pada kelompok pasien ini, imunisasi pasif berupa antibodi monoklonal bisa menjadi pilihan sebagai perlindungan tambahan,” kata dr. Jeffry dalam keterangan tertulisnya.

Untuk melindungi dari COVID-19, selain menggunakan vaksin yang dapat secara aktif merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi, populasi tertentu, terutama pasien kanker, dapat mengikuti terapi imunisasi pasif seperti antibodi monoklonal yang mungkin menjadi pilihan untuk didapatkan pasien tersebut. perlindungan tambahan terhadap COVID-19.

Antibodi monoklonal menargetkan protein lonjakan virus COVID-19 sebagai pencegahan (Profilaksis Pra Paparan/PrEP) terhadap infeksi SARS-CoV-2. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, antibodi monoklonal dapat mencegah infeksi COVID-19 pada kelompok rentan, salah satunya pasien kanker.

Sebaliknya, antibodi monoklonal dapat memberikan perlindungan jangka panjang hingga 6 bulan dan efektif melawan virus SARS Cov-2 yang bermutasi.

Tonton Video “Uji Coba Vaksin Covid-19 Semprot Hidung AstraZeneca-Oxford Gagal”
[Gambas:Video 20detik]
(ncm/ega)