liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Nano Riantiarno Meninggal Dunia, Sujiwo Tejo: Gugur Satu Pemberani


Jakarta

Pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno, meninggal dunia di usia 73 tahun. Nano Riantiarno meninggal dunia setelah berjuang melawan tumor dan kanker.

Sujiwo Tejo sebagai seorang budayawan sangat terkesan dengan karya Nano Riantiarno.

“Saya baru tahu (melihat karyanya), selama ini hanya dari koran yang mencantumkan penampilannya, saya melihat posternya sendiri, tidak cukup dengan lebih dari 200 pertunjukan,” kata Sujiwo Tejo saat ditemui di rumah duka kawasan Bintaro. , Tangerang Selatan, Banten, Jumat (20/1/2023).

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Presiden Jancukers menyebut sosok Nano Riantiarno sebagai sosok idealis.

Suasana di Kamar Jenazah Nano Riantiarno Foto: Ahsan Nurrijal/detikHOT

“Luar biasa. Setahu saya Nano Riantiarno sangat fleksibel dalam mencari uang, tapi ada batasannya. Dia tidak mau sponsor di atas panggung, saya tidak tahu sampai sekarang. Tapi sampai tahun 2000-an dia sangat keras, kata Sujiwo Tejo.

Menurutnya, Nano Riantiarno seperti Iwan Fals di dunia teater yang berani mengkritisi wakil rakyat melalui karyanya.

“Kalau mengikuti Iwan Fals sekarang sudah biasa, lagu-lagu yang mengkritik wakil rakyat pasti populer, kelihatannya biasa saja, tapi waktu Pak Harto berani banget,” terang Sujiwo Tejo.

“Jadi Nano melakukan itu, subseksi, lalu Opera Lipas, itu melawan rezim Pak Harto. Kita lihat seperti itu, jangan sekarang, sekarang buka,” jelasnya.

Dengan meninggalnya Nano Riantiarno, menurutnya Indonesia kehilangan seorang idealis pemberani.

“Ya, kehilangan sosok pemberani, yang bukan seni untuk seni, istilah saya, tapi seni untuk tujuan sosial. Kalau seni untuk seni, itu drama cinta, dia ungkapkan itu ke atas panggung. Sosoknya adalah habis,” tutupnya.

(ahh)