liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Mengenal Tradisi Petani Huma dari Pandeglang


Pandeglang

Salah satu seniman Pandeglang menciptakan karya ‘Swara Jalawara Jawara: Suara untuk Padi’. Karya ini muncul karena kerinduannya pada pola pertanian tradisional masyarakat Sunda di huma atau sawah kering.

Seorang seniman asal Pandeglang bernama Rizal Mahfud mengatakan, Cibaliung dan Pandeglang selatan dulu dikenal sebagai daerah dengan huma terbesar di Banten.

Namun seiring berjalannya waktu, modernisasi dan industrialisasi di segala bidang telah mengurangi jumlah lahan dan manusia petani di sana. Tradisi yang dulu dilakukan masyarakat kini perlahan menghilang.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Karya ini merupakan rangkuman dan luapan rasa rindu dan kegelisahan terhadap tradisi huma di Cibaliung yang semakin tergerus. Saya kangen lagu-lagu yang biasa dinyanyikan untuk kesuburan padi, sampai beberapa kali terdengar suara calung, omprang, hingga lesung yang dulu ramai meneriakkan huma dan saung,” kata Rizal saat ditanya, Jumat (20/1/2018). 2023).

“Saya kangen dengan suasana liliuran atau kolektivitas masyarakat yang dirasakan mulai dari menanam padi hingga merayakan musim panen di seren taun. Sekarang seren tau tidak lagi dirayakan di Cibaliung,” imbuhnya.

Rizal Mahfud Pencipta “Suara Padi” (Foto: Istimewa)

Karya ini berupa alat musik dari alat musik tradisional yang biasa dimainkan di huma. Ada calung bersama, krami buhun, angklung buhun, omprang, leung, lodong gong, karinding, dan seruling kumbang.

“(Karya) ini akan mendapat tanggapan dari empat seniman lintas disiplin, mulai dari tari, monolog, hingga pantomim. Hampir semua musisi dan kolaborator yang terlibat berasal dari Pandeglang,” jelasnya.

Rizal menjelaskan proses pembuatan karya ini sudah dimulai pada Oktober 2022 dan akan dilakukan pada 21-22 Januari di Boeatan Tjibalioeng, Kampung Namprak, Kampung Mendung, Kecamatan Cibaliung, Pandeglang.

Selain musik, ada rangkaian kegiatan lain seperti diskusi, kelas, dan penanaman pohon.

“Karya ini merupakan apresiasi dari kami para seniman dan musisi muda yang ingin mengenal dan mengenang warisan budaya nenek moyang kami,” pungkasnya.

Simak Video “BMKG Update Gempa di Banten Magnitudo 5,3”
[Gambas:Video 20detik]
(mis./mis.)