liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Menebak-nebak Kursi Maju atau Mundur Saat Beli Tiket Kereta Ekonomi


Jakarta

Nunu, 40, akhir-akhir ini sering pulang ke Solo. Warga Bekasi itu beberapa kali ditipu dengan memilih tempat duduk di kereta ekonomi, gagal mendapatkan arah depan sesuai dengan kecepatan kereta.

Nunu memang harus sering pulang kampung ke Solo. istrinya melahirkan di Solo dan tinggal sementara di rumah orang tuanya. Setiap akhir pekan, Nunu pulang.

Kereta api menjadi moda transportasi pilihan untuk pulang kampung. Berangkat Jumat malam, dia bisa tiba di Solo Sabtu pagi. Jadi, dia bisa memanfaatkan akhir pekan bersama istri dan anak-anaknya.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Untuk menghemat pengeluaran, ia memilih kereta ekonomi. Pasalnya, harga tiket eksekutif yang kini selalu di atas Rp 500.000, lebih hemat untuk perjalanan rutin.

Namun ternyata sulit mendapatkan harga tiket kereta api ekonomi bersubsidi. Mau tidak mau, dia membeli tiket kereta api ekonomi tanpa subsidi.

Selisih tiket kedua kelas kereta api di kelas ekonomi ini sangat mencolok. Tarif kereta api ekonomi bersubsidi ke Yogyakarta atau Solo sekitar Rp70.000,- sedangkan kereta api nonsubsidi Rp200.000.

“Menurut saya rutin mudik cukup mahal. Apalagi ada kendala besar saat naik kereta. Kami tidak yakin mendapat tempat duduk menghadap ke depan sesuai dengan kecepatan kereta. Bikin pusing,” kata Nunu. dalam percakapan dengan detikTravel

Nunu kemudian bercerita, saat pulang kampung akhir pekan ini memilih membeli tiket seharga Rp 350.000. Padahal, ada harga tiket kereta api yang sama dengan tarif lebih murah Rp 2670 ribu.

“Namun, tidak ada informasi yang jelas apakah keduanya berbeda atau memiliki fasilitas yang sama. Sehingga dikhawatirkan yang lebih murah akan mendapatkan fasilitas yang lebih rendah. Atau malah mendapatkan tempat duduk tegak. bencana, karena perjalanannya cukup panjang dan lutut saya akan terbentur dengan penumpang lain,” kata Nunu.

Setelah naik kereta, dia sedikit lega. Dia mendapat kursi malas, sandaran yang bisa disesuaikan.

Selain memilih kereta, Nunu juga terkadang menggunakan bus untuk pulang. Sebab, dengan harga lebih murah, kenyamanan lebih nyaman.

“Yang pasti tidak perlu pusing mau dapat kursi yang seperti apa. Kemudian fasilitasnya lebih ‘sultan’ dengan harga yang sama. Dan, setelah tol ada, perjalanan dengan bus bisa lebih singkat, ” dia berkata.

Terkait harga gerbong kereta yang berbeda, KAI menjelaskan soal pembagian tarif menjadi sub kelas. Itu untuk membuat tiket kereta api lebih terjangkau. Jenis tiket kereta api ini terbagi atas penjualan tiket kereta kelas Eksekutif, Bisnis, dan Ekonomi.

Saat melakukan pemesanan, calon pelanggan akan melihat kode subclass pada tiket yang diinginkan beserta beberapa alternatif tarif. Perbedaan kode subclass hanya pada tarif yang ditawarkan dan tidak ada perbedaan fasilitas atau tempat duduk yang akan didapatkan pelanggan selama perjalanannya.

Namun, untuk duduk maju atau mundur, penumpang tidak bisa mendapatkan acuan yang jelas.

Simak Video “Balai Yasa Manggarai Menampilkan 3 Inovasi Terbaru Saat Open House”
[Gambas:Video 20detik]
(perempuan/perempuan)