liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Beberapa mal di DKI Jakarta mulai sepi pengunjung, seperti Mal Blok M, selain karena bersaing dengan e-commerce, pandemi juga membuat mal tersebut sepi.

Jakarta, CNN Indonesia

MallPusat perbelanjaan di DKI Jakarta tampak sepi pengunjung. Meskipun pandemi mulai mereda, diberlakukannya pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) telah dibatalkan, tetapi mal tidak lagi seramai dulu.

Seperti Mal Blok M hingga Festival Plaza Kuningan, terlihat sangat memprihatinkan. Tak hanya itu, pusat perbelanjaan Ratu Plaza, Kota Glodok, dan Plaza Semanggi juga sepi.

Pantauan CNNIndonesia.com di Mal Blok M, Selasa (10/1) siang, suasana sepi dan jauh dari keramaian layaknya kota hantu.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Terlihat beberapa penjaga lapak sibuk memainkan ponselnya alih-alih menelpon pengunjung untuk melihat barang yang dijual. Pemandangan ini tidak mengherankan. Sebab, pedagang yang ingin memanggil pengunjung wong juga tidak hadir.

Di beberapa sudut mall, banyak kios yang tutup. Di bagian lain, percakapan nyaris tak terdengar antara penjual dan pembeli yang tawar-menawar.

Tak hanya itu, beberapa kafe, restoran, dan kantin sepi pengunjung. Pengunjung yang makan di sembarang tempat bisa dihitung dengan jari.

“Sekarang sepi, kadang sehari hanya satu dua orang yang belanja, penjualan turun 60 persen,” keluh Devi (22), pedagang di Mal Blok M.

Ia mengaku beberapa tahun lalu mampu membawa pulang Rp 4 juta sehari. Perempuan yang setiap hari berjualan baju itu mengatakan Mal Blok M sepi sejak wabah. Apalagi sekarang ini orang lebih suka belanja online.

Devi menilai selama pandemi banyak masyarakat yang menggunakan toko online untuk berbelanja. Belum lagi harga di toko online relatif lebih murah dibandingkan di pusat perbelanjaan.

Dia hanya bisa gigit jari karena tidak bisa menurunkan harganya. Sebab membuka warung di pusat perbelanjaan berarti membayar sewa tempat. Belum lagi banyaknya pesaing. Karena itu, dia harus berpikir beberapa kali untuk menekan harga.

“Jadi mungkin orang juga mikir, dengan perbandingan harga Rp. 5.000-Rp. 10.000 orang berpikir (belanja online atau ke mal), itu juga berdampak,” kata Devi.

Richio (27), seorang penjual celana dan jaket di pusat perbelanjaan yang sama juga mengeluhkan hal yang sama. Ia mengatakan, pusat perbelanjaan tersebut sudah dua tahun ini sepi pengunjung.

Akibatnya, penjualan turun lebih dari 50 persen. Richio juga mengatakan meski PPKM telah dibatalkan, Mal Blok M belum juga dikunjungi pengunjung. Ia hanya bisa berharap pusat perbelanjaan kembali ramai menjelang Ramadhan atau Aidilfitri.

“Sekarang sepi sekali. Mudah-mudahan menjelang akhir bulan puasa ramai lagi,” ujarnya.

Situasi Mal Blok M saat ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. Pusat perbelanjaan ini dulu dikenal sebagai satu-satunya ‘Mall Bawah Tanah’.

Bahkan, pusat perbelanjaan ini dicap sebagai kawasan legendaris yang digandrungi anak muda era 90-an. Apalagi lokasinya tepat di bawah Terminal Blok M, sangat strategis sebagai jalur transit moda transportasi.

Pindah ke Plaza Festival Kuningan di Jakarta Selatan, pemandangan yang sama juga terjadi di mal. Pusat perbelanjaan di pusat kota kini sepi pengunjung.

Terpantau, beberapa warung tutup, bahkan yang buka tidak ada tamu. Penjaga warung hanya sibuk memainkan ponselnya sambil bernyanyi untuk mengusir rasa bosan. Tak hanya warung, kafe dan restoran di Plaza Kuningan Festival juga sepi. Bahkan, salah satu kafe hanya memuat tiga meja.

“Sejak pandemi sepi seperti ini. Dibanding sebelumnya 50 persen pengunjung kalah. Putaran juga sekitar itu (menurun),” ujar Anton (25), pedagang di Kuningan Festival Plaza.

Pria yang menjual asesoris dan elektronik ini mengatakan, jika mal tidak dekat dengan pusat perkantoran, akan lebih sepi.

Pasalnya, saat ini mayoritas pengunjung adalah para pekerja di sekitar Kuningan. Meski begitu, Anton memilih bertahan dan berdoa agar Kuningan Festival Plaza kembali ramai.

“Sabar saja, siapa tahu nanti kembali normal seperti dulu,” ujarnya penuh harap.

[Gambas:Video CNN]

Tidak hanya di Jakarta

BACA HALAMAN BERIKUTNYA