liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
KemenPPPA Ungkap Dispensasi Kawin Anak Terbanyak di 3 Provinsi Ini


Jakarta

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) melaporkan tiga daerah dengan kasus dispensasi perkawinan anak (Diska) terbanyak di Indonesia. Ketiga daerah itu meliputi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Asisten Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Bidang Perawatan dan Lingkungan Kementerian PPPA Rohika Kurniadi Sari mengungkapkan, angka perkawinan anak di RI setiap tahunnya mengalami penurunan. Namun penurunan ini tidak dapat dikatakan bahwa jumlah perkawinan anak mengalami penurunan.

“Daerah yang paling banyak di dispensasi nikah adalah yang masih menduduki jabatan tinggi, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan,” ujarnya saat ditemui di Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta Pusat, Jumat (20/1/2023).

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Ika mengungkapkan, faktor yang paling dominan melatarbelakangi dispensasi perkawinan anak adalah ekonomi, selain adat dan pendidikan. Meski begitu, Ika belum merinci lebih jauh terkait jumlah dispensasi nikah di tiga daerah tersebut karena pihaknya masih berkoordinasi dengan Badan Peradilan Agama (Badilag) untuk melakukan sinergi data.

“Yang paling dominan adalah ekonomi karena solusi ekonomi adalah menikahkan anak. Kedua, orang tua khawatir anaknya akan melakukan perbuatan tercela seperti zina, itu faktor Diska. Orang tua sekarang mudah menyerah pada anak ini. ,” dia menambahkan.

Sementara itu, Plt Deputi Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) RI, Rini Handayani, SE MM menjelaskan beberapa risiko kesehatan yang bisa dialami anak pada pernikahan dini dan kehamilan, di antaranya:

53 persen perkawinan di bawah usia 18 tahun mengalami gangguan jiwa, depresi 4,5 kali peluang kehamilan risiko tinggi 2 kali risiko kematian saat melahirkan 2-5 kali peluang terkena preeklampsia Kontraksi uterus suboptimal Risiko lahir prematur Berpotensi tertular penyakit menular seksual (PMS) 17,2 persen berpotensi terkena kanker serviks dan 30,9 persen kanker payudara Risiko BBLR (bayi berat lahir rendah). 30-40 persen peningkatan risiko stunting dalam 2 tahun dan gagal tamat SMA

Selain kesehatan, pernikahan dini juga berpotensi mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), perceraian, dan kurangnya kematangan psikologis.

Oleh karena itu, perkawinan anak perlu dicegah sejak dini melalui peran aktif orang tua dalam membantu anaknya.

Tonton Video “Jepang Berencana Turunkan Status Covid-19 ke Tingkat Flu Musiman”
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)