liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Ini Lho Pendopo Ambarrukmo, Lokasi Pernikahan Kaesang dan Erina


Jakarta

Balai Agung Kedhaton Ambarrukmo di Kecamatan Depok, Sleman, Yogyakarta, menjadi sorotan setelah dikukuhkan sebagai lokasi pernikahan putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, pada Sabtu (10/12/2022). bagaimana?

Pernikahan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (10/12) di Balai Kedhaton Ambarrukmo. Lokasinya, berdiri di sisi barat Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Rumah Singgah Sultan

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Bangunan ini memiliki sejarah yang kuat. Kini, bangunan tersebut menjadi cagar budaya dan bagian dari kompleks Pesanggrahan Ambarrukmo Kedhaton.

Bangunan ini pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II, kemudian dilanjutkan pembangunannya oleh Sri Sultan HB V, kemudian diselesaikan oleh Sri Sultan HB VII.

Nama Ambarrukmo diberikan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Harya Adipati Mangkubumi, adik dari Sri Sultan HB VII.

Pada awalnya, Ambarrukmo hanya difungsikan sebagai tempat istirahat dan persinggahan Sultan, serta tempat penyambutan tamu-tamu penting sebelum menuju Keraton Yogyakarta. Kemudian akhirnya berubah fungsi menjadi tempat tinggal.

Sri Sultan HB VII mengajukan pengunduran diri atau berhenti mengabdi pada tanggal 27 Oktober 1920. Setelah resmi turun tahta, beliau menetap dan menetap di Pesanggrahan Ambarrukmo. Jadi, pengucapannya diubah, namanya diubah menjadi Kedhaton Ambarrukmo.

“Paviliun ini sudah berdiri sejak tahun 1800. Menurut sejarah, ketika Sultan HB VII turun tahta, otomatis ia harus meninggalkan Keraton (Yogyakarta). Lalu akhirnya dia memilih tempat disini untuk beristirahat dan tiba (usia). ) HB VIII,” kata GM Royal Ambarrukmo Herman Courbois suatu ketika.

Menumpang kereta api Kencana Kiai Garuda Yaksa, perjalanan Sultan HB VII dari Keraton Yogyakarta menuju Ambarrukmo Kedhaton ditandai dengan 19 kali tembakan meriam yang diiringi iring-iringan warga Yogyakarta. Ia menghabiskan hari-harinya di tempat itu, hingga wafat dan dimakamkan di Makam Raja-Raja Mataram, Pajimatan Imogiri.

Warisan budaya

Kini Balai Besar Kedhaton Ambarrukmo yang juga merupakan satu kesatuan dengan Wisma Kedhaton Ambarrukmo telah menjadi bagian dari cagar budaya dan terbuka untuk umum. Sekaligus menjadi salah satu pilar pelestarian budaya Jawa khususnya di Yogyakarta.

“Memang sejarahnya masih kental. Alun-alun ini untuk umum. Pendopo dulunya digunakan untuk menggelar resepsi, kalau ke sini menyepi dengan agen Ndalem, itu hanya untuk VIP atau keluarga saja. Kalau mau masuk ke belakang gadri, itu hanya untuk keluarga, keluarga kerajaan saja,” kata Herman.

Setiap Dekorasi Memiliki Filosofi

Tidak hanya kental dengan nilai sejarah, setiap bentuk, struktur, dan dekorasi di Pendopo Ambarrukmo Agung mengandung makna dan filosofi tersendiri. Misalnya, hiasan bernama Putri Mirong pada pilar penyangga Pendopo menandakan kesuburan, kemakmuran dan kemakmuran serta visualisasi kehadiran Ratu Pantai Selatan atau yang biasa dikenal dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Hiasan Ceplok Melati atau Wajikan pada langit-langit bangunan merupakan simbol kejujuran. Hiasan paviliun umumnya melambangkan kesuburan, keindahan, dan kebaikan.

Selain menjadi saksi bisu sejarah dengan bentuk bangunan dan perlengkapan arsitekturalnya, Balai Besar Kedhaton Ambarrukmo kini juga dilengkapi dengan koleksi wayang kulit ala Yogyakarta dan seperangkat Gamelan Kiai Yasa Arum dengan Slendro. Dapat disesuaikan.

Tidak hanya warna, motif hias pada gamelan juga menggunakan motif ukiran yang sama dengan motif Ambarrukmo Kedhaton Hall, seperti motif Putri Mirong, Tlacapan, Wajikan, Praba dan lain-lain.

Tonton videonya “Lucu! Saat Jan Ethes Ucapkan Selamat Kaesang Menikah”
[Gambas:Video 20detik]
(perempuan/perempuan)