liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Bikin Geger, Begini Temuan Ilmuwan soal 'Virus Zombie' Berusia 48 Ribu Tahun


Jakarta

Baru-baru ini, penemuan ‘virus zombie’ telah ditemukan oleh para peneliti di Permafrost, Siberia, Rusia. Permafrost adalah lapisan tanah beku yang tetap di bawah 0 derajat Celcius selama bertahun-tahun.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di BioRxiv, para peneliti telah ‘menghidupkan kembali’ dan mengumpulkan 13 patogen berusia lebih dari 48.500 tahun yang mereka beri nama ‘virus zombie’. Mendengar namanya, banyak orang awam yang bertanya-tanya apa arti virus ini jika menginfeksi manusia dan bisa mengubahnya menjadi zombie seperti di film-film?

Sejalan dengan itu, Ahli Epidemiologi Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman menjelaskan, virus zombie hanyalah sebuah nama karena virus ini dapat hidup di es beku selama ribuan bahkan ratusan ribu tahun.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Ia juga menjelaskan penamaan virus, bakteri, dan jamur patogen memiliki standar penamaan internasional seperti SARS-CoV-2, penyebab pandemi COVID-19.

“Jadi virus zombie adalah virus yang sebenarnya, tapi istilahnya membuat orang mengasosiasikannya dengan cara yang menakutkan, padahal itu tidak perlu. Jadi penamaan patogen dalam istilah bakteri atau virus tidak begitu,” ujarnya saat dihubungi oleh detik.com, Senin (5/12/2022).

“Jadi jangan sebut nama tempat, lokasi, atau nama orang yang menemukannya, apalagi nama yang seram,” lanjutnya.

Meski begitu, yang perlu dikhawatirkan, kata Dicky, bukan nama virusnya, melainkan sifat virusnya yang ternyata bisa hidup kembali setelah lama mati.

“Yang sangat memprihatinkan dari penemuan ini adalah secara teoritis tidak hanya virus saja, bisa juga berupa bakteri atau jamur yang hidup puluhan ribu, bahkan ratusan ribu tahun yang lalu dalam keadaan dorman (dihidupkan kembali) dan berpotensi untuk menginfeksi manusia,” lanjutnya. .

Secara teoritis, potensi menularkan ke manusia bisa saja terjadi, meski kecil kemungkinannya dan tidak sebesar penyebaran virus dari hewan liar. Namun, peluang untuk menginfeksi manusia masih ada.

“Tapi bukan tidak mungkin hal itu bisa terjadi meski kecil, tapi yang penting meski kecil tetap berdampak. Bahkan satu jenis virus seperti Corona Virus atau SARS CoV 2 yang sekarang mewabah juga hanya satu,” tambah Dicky.

“Jadi, meski hanya satu, dua, tiga, atau satu kecil, jika mematikan, cepat menginfeksi, atau cepat menyebar membuat orang menjadi lebih buruk, itu pertanda serius,” tambahnya.

Simak Video “Penemuan Virus Mirip Covid-19 pada Kelelawar di China Selatan”
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)