liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
China melaporkan hampir 60 ribu kematian terkait Covid-19 dalam sebulan hingga Sabtu (14/1), di tengah lonjakan infeksi virus corona di Negeri Tirai Bambu.

Jakarta, CNNIndonesia

Cina melaporkan hampir 60 ribu kematian terkait Covid-19 dalam sebulan hingga Sabtu (14/1), di tengah lonjakan infeksi virus corona di Negeri Tirai Bambu itu.

Seperti dilansir AFP, Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) mencatat 59.938 kematian terkait Covid-19 antara 8 Desember dan 12 Januari.

Kepala Biro Administrasi Medis NHC, Jiao Yahui menjelaskan, angka tersebut termasuk 5.503 kematian akibat gagal napas langsung akibat virus tersebut.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Sedangkan 54.435 kematian lainnya disebabkan oleh penyakit bawaan yang dikombinasikan dengan Covid-19.

Angka tersebut merupakan angka kematian besar pertama yang dirilis pemerintah sejak pelonggaran peraturan pada awal Desember.

Namun, China diduga tidak melaporkan jumlah sebenarnya kematian akibat Covid-19. Angka yang mendekati 60.000 kematian itu diduga hanya sebagian dari kebenaran.

Bulan lalu, Beijing merevisi definisi untuk mengkategorikan kematian akibat Covid-19. Dengan aturan itu, China hanya akan menghitung pasien yang meninggal dunia langsung akibat gagal napas akibat Covid.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkritik keputusan tersebut karena definisi baru tersebut dianggap terlalu sempit.

[Gambas:Video CNN]

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan organisasinya terus meminta China untuk data yang lebih cepat, teratur, dan andal tentang rawat inap, kematian, dan penyebaran virus.

WHO menduga pemerintah China memanipulasi data terkait angka kematian akibat Covid-19 ketika negara Tirai Bambu itu hanya mencatat 22 kematian pada Desember lalu.

Angka ini patut dipertanyakan karena beredar video yang memperlihatkan jenazah yang diduga terpapar virus corona berjejer di rumah sakit dan krematorium. Video dan foto menunjukkan bahwa statistik Beijing tentang gelombang Covid-19 bertentangan dengan kenyataan.

Sementara itu, Beijing menegaskan telah transparan kepada masyarakat internasional tentang datanya. Mereka juga mendesak WHO untuk menjunjung tinggi sikap ilmiah, objektif dan adil.

(pop/khas)