liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
AKBP Arif Rachman mengaku awalnya percaya dengan yang disampaikan mantan Kapolres Jaksel Kombes Budhi Herdi terkait baku tembak di rumah dinas Ferdy Sambo.


Jakarta, CNNIndonesia

Terdakwa dalam perkara menghalangi peradilan atau menghalangi penyidikan pembunuhan berencana, Brigadir J. AKBP Arif Rachman Arifin terkejut mengetahui bahwa Brigadir J masih hidup saat itu Freddy Sambo tiba di rumah dinasnya, Kompleks Polsek Duren Tiga, Jakarta Selatan, 8 Juli lalu.

Situasi ini, kata Arif, berbeda dengan keterangan Kombes Budhi Herdi Susianto yang saat itu menjabat sebagai Kapolres Metro Jakarta Selatan.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Chuck biar saya, Pak. Ada perintah dari Kabag untuk nonton, Chuck nonton apa? Nonton CCTV, Pak,” ujar Arif di persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (28/11).

Kemudian, Arif bersama Chuck dan Baiquni pindah dari rumah dinas Sambo ke rumah Ridwan Soplanit. Di bekas rumah Bareskrim Polres Jakarta Selatan, Baiquni memperlihatkan rekaman CCTV dari laptopnya.

“Dari rekaman itu tertulis pukul 17.00 sampai 18.00,” katanya.

Arif mengaku awalnya mengira penembakan di rumah Sambo itu sejalan dengan apa yang dikatakan Kapolres Metro Jaksel di televisi. Namun, anggapan tersebut langsung terbantahkan setelah melihat rekaman CCTV.

“Terus Chuck bilang ‘aduh kok Joshua masih hidup’. ‘Yang Joshua’. ‘Itu baju putihnya’. Tahu’. Lalu aku tinggal di sana,” jelas Arif.

Hakim kemudian menunjukkan potret Briptu J yang tergeletak berlumuran darah di dekat tangga. Dia terlihat mengenakan kemeja putih, yang berlumuran darah.

“Apakah kamu melihat ini bahwa kamu melihat saudara Joshua?” tanya hakim.

“Biayanya ya,” kata Arif.

Arif mengatakan, kondisi jenazah Briptu J yang dilihatnya saat autopsi tidak mengenakan pakaian.

“Saya tidak memakai pakaian, Yang Mulia, Yang Mulia bersih ketika saya masuk,” katanya

“Dengar, kamu bilang bajunya merah, kapan kamu tahu baju Joshua berwarna merah?” tanya hakim.

“Saya lihat di tumpukan baju di samping badan ada tumpukan celana jeans biru dengan baju merah ningrat,” kata Arif.

Arif adalah salah satu saksi terdakwa Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E, Bripka Ricky Rizal atau Bripka RR dan Kuat Ma’ruf di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (28/11).

Bharada E, Bripka RR, dan Strong didakwa oleh jaksa atas pembunuhan terencana terhadap Brigadir J. Perbuatan itu dilakukan bersama mantan Kepala Divisi Propam Ferdy Sambo dan istrinya Putri Candrawatihi.

Mereka didakwa melanggar Pasal 340 subsider Pasal 338 jo Pasal 55 ayat 1 1 KUHP.

(lna/fra)

[Gambas:Video CNN]