Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menyebut banyak warga Indonesia datang ke sebuah mal di Singapura dengan koper kosong dan kembali ke Indonesia membawa uang.


Jakarta, CNN Indonesia

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkapkan bahwa banyak orang Indonesia beralih uang di pusat perbelanjaan Singapura.

Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menyatakan, penemuan itu dilakukan setelah pihaknya mendeteksi sejumlah uang tunai yang masuk ke Indonesia.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Kemudian saya kirim orang ke sana, dan ternyata di Singapura ada pusat perbelanjaan khusus swalayan valuta asing,” ujar Ivan dalam Sosialisasi Kebijakan dan Regulasi: Pengangkutan Uang Tunai dan Alat Pembayaran Lainnya Melintasi Batas Pabean Indonesia. Demikian dilansir dari laman online, Rabu (23/11).

Ivan mengatakan banyak orang Indonesia datang ke tempat itu dengan koper kosong dan kembali ke Indonesia dengan koper penuh.

“Jadi orang Indonesia yang datang ke sana hanya bawa koper, bisa satu jari, dua jari, ganti ke sini (mal), lalu dibawa ke Indonesia, digendong,” kata Ivan.

“Ada foto terkait diambil taksi dan lain-lain. Ini (di supermarket) semuanya orang Indonesia,” imbuhnya.

Ivan mengatakan, penemuan tersebut kemudian dilaporkan ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang berujung pada penangkapan beberapa pihak lengkap dengan sejumlah besar uang sebagai barang bukti.

“Kemudian, kami menginformasikan ke Bea Cukai bahwa ada hal-hal seperti ini, coba secara acak, ketika mereka tertangkap, mereka berhasil menangkap sebesar ini,” katanya.

Sebelumnya, PPATK mencium adanya triliunan rupiah yang masuk ke Indonesia tanpa dilaporkan alias ilegal setelah membandingkan data Passenger Risk Management (PRM) dengan Cross Border Cash Carriers (CBCC).

Salah satunya terdeteksi telah melapor ke Bea Cukai dengan total Rp 66 miliar dalam empat kali kedatangan. Namun setelah diperiksa, orang tersebut tercatat masuk sebanyak 154 kali.

Jika dihitung rata-rata setiap kali seseorang membawa uang tunai sekitar Rp 15 miliar, dia memperkirakan ada uang triliunan rupiah yang masuk ke Indonesia tanpa dilaporkan.

“Artinya kalau rata-rata Rp 66 miliar dibagi 4, misalkan Rp 15 miliar sekaligus. Kalau rata-rata 15 miliar, kalikan saja 150 kali 15 miliar, ada lubang untuk tidak dilaporkan,” ujarnya. .

Dari 20 nama tersebut, Ivan juga fokus pada beberapa nama Pedagang Valuta Asing (PVA) dengan total nominal Rp 964 miliar.

“Artinya, potensi arus masuk rata-rata Rp 12 triliun yang tidak dilaporkan pada 2018 dan sekitar 3 triliun pada 2019 yang tidak dilaporkan,” katanya.

(yo/fra)

[Gambas:Video CNN]