liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Arif Rachman Arifin mengaku gemetar hingga tak sanggup berdiri saat mengetahui Brigadir J masih hidup ketika Ferdy Sambo tiba di rumahnya.

Jakarta, CNNIndonesia

Mantan Wakaden B Paminal Propam Polri AKBP Arif Rachman Arifin mengaku sangat gemetar hingga tak tahan saat mengetahui Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J masih hidup.

Dia mengatakan Brigadir J masih hidup saat Ferdy Sambo tiba di rumah dinasnya, Kompleks Polsek Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada 8 Juli lalu.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Hal itu disampaikan Arif saat diperiksa sebagai terdakwa penghalang persidangan kasus pembunuhan berencana Brigjen J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (13/1).

Arif mengaku tak percaya dengan cerita Sambo soal peristiwa penembakan Brigjen J setelah melihat rekaman closed-circuit camera (CCTV) Polsek Duren Tiga di rumah Ridwan Soplanit, yang saat itu bertugas sebagai Kapolsek. Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan.

Arif kemudian menginformasikan kepada Karo Paminal Polri Hendra Kurniawan mengenai momen Brigjen J yang terekam CCTV secara detail melalui telepon.

Dia mengungkapkan kondisinya setelah menonton rekaman CCTV. Arif mengaku sangat gemetar hingga tidak bisa berdiri. Situasi ini membuatnya harus memanggil Hendra dalam posisi jongkok.

“Begitulah kondisi setelah melihat apa yang dikatakan Chuck kemarin, saya sebenarnya tidak bisa bicara Yang Mulia, lutut saya ingin berdiri dari kursi di depan rumah Ridwan, saya tidak bisa. “Saya tidak bisa berdiri karena gemetar-gemetar, jadi sambil jongkok dipanggil Encik Hendra,” kata Arif.

Mengetahui kondisi Arif, Hendra kemudian berusaha menenangkannya.

“Pak Hendra bilang tenang, jangan panik. Makanya di BAP saya tertulis tenang, jangan panik karena itu tidak biasa bagi saya, situasinya bagaimana ya,” ujarnya.

Arif mengaku takut karena apa yang dikatakan Sambo tidak benar.

“Sampai saat itu, orang lain yang melakukannya, kenapa kamu gemetaran?” tanya hakim.

“Takutlah, Tuanku,” jawab Arif.

“Apakah kamu takut?” tanya hakim lagi.

“Karena ada yang tidak beres,” kata Arif.

Semula, Arif meyakini apa yang dikatakan Sambo soal kronologis penembakan Brigadir J itu benar adanya.

Namun, keyakinan itu dengan cepat dibantah setelah melihat rekaman CCTV.

“Apa yang kami yakini menurut pendapat kami adalah benar, ceritanya terus terjadi, itu mengejutkan kami dan membuat kami panik, padahal dari awal kami telah ikut otopsi dan kami akan melihat sendiri bagaimana tidak seperti ini, kami lihat. kenyataannya,” kata Arif

Arif Rachman Arifin didakwa menghalang-halangi peradilan atau menghalang-halangi peradilan terkait penanganan dugaan pembunuhan berencana Brigadir J.

Perbuatan tersebut dilakukan oleh Arif bersama Ferdy Sambo, Irfan Widyanto, Hendra Kurniawan, Agus Nurpatria, Chuck Putranto dan Baiquni Wibowo.

Atas perbuatannya, Arif Rachman Arifin didakwa melanggar Pasal 49 jo Pasal 33 subsider Pasal 48 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 233 Tindak Pidana. KUHP Subsider Pasal 221 ayat (1) s/d 2 juncto Pasal 55 KUHP.

(lna/pm)

[Gambas:Video CNN]